Ibun tuh kalo ke Supermarket liat sarden kalengan seringnya skip. “Ah… makanan kaleng, ga sehat. Pasti kalah sehat sama ikan segar.”
Sampai minggu lalu ibun lagi sowan ke tetangga. Suaminya sudah belasan tahun kerja di industri pengalengan ikan. Pas ketemu, Ibun liat beliau lagi nenteng tas isi sarden.
Ibun iseng tanya, “Pak, aku ini loh penasaran, sarden kaleng itu sebenarnya aman nggak sih? Aku kok agak ngeri ya kalau konsumsi ikan kalengan gitu... takut banyak pengawetnya."
Beliau malah ngikik terus bilang, “Bu, selama ini banyak orang salah paham. Padahal sarden bagus loh..."
Ibun kaget tapi penasaran, “Bukannya ikan segar lebih bagus?”
Beliau jawab lagi, "Sini saya jelasin ya, bu. Ibu tau gak, berapa lama waktu dari ikan ditangkap sampai masuk kaleng di pabrik?"
"Wah, gak tahu, Pak. Berhari-hari ya?" Ibun asal nebak aja.
“Kalau buat sarden, setelah ikan ditangkap biasanya langsung diproses. Di tempat kami sekitar 4-8 jam. Memang banyak industri pengalengan berusaha menerapkan standar industri memproses ikan secepat mungkin setelah ditangkap, untuk menjaga kualitasnya.”
Ibun langsung melongo. Baru tahu soal beginian.
“Lho… terus ikan yang dijual segar di supermarket?”
Beliau bilang, “Bisa 3 sampai 7 hari baru sampai rak, tergantung distribusi, bu.
Selama perjalanan itu ikan mengalami pendinginan, penyimpanan, pengangkutan, sampai dipajang."
Katanya lagi, “Omega-3 itu sensitif terhadap oksidasi, cahaya, dan perubahan suhu.
Makanya ikan yang dijual ‘segar’ belum tentu selalu lebih unggul dari sisi kandungan omega-3 dibanding ikan yang diproses cepat setelah ditangkap.”
Ibun ngernyit dahi heran tapi kepo.
Masih belum puas nih jadi nanya lagi, “Tapi kan sarden kalengan dipanasin tho, pak?”
Beliau mengangguk.
“Iya. Tapi dipanasinnya sekali dalam proses sterilisasi setelah kaleng ditutup rapat. Tujuannya supaya steril dan awet disimpan meski tanpa Zat Aditif Sintesis, bukan dipanasin berkali-kali."
Lalu Ibun ingat sesuatu yang Ibun pernah baca di sosmed.
“Bukannya sarden itu termasuk ultra-processed food?”
Beliau malah balik nanya, “Ibu pernah baca definisi ultra-processed food?”
Ibun nyengir hehee... ga begitu paham soalnya.
Beliau lalu menjelaskan soal klasifikasi standar NOVA. Katanya itu sistem yang mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pengolahannya.
Ultra-processed food biasanya mengandung banyak bahan hasil formulasi industri seperti:
- perisa buatan,
- pewarna,
- pemanis,
- penguat rasa,
- emulsifier, dan
- berbagai bahan tambahan lainnya.
Ini masuk grup 4.
Sedangkan sarden kaleng yang isinya hanya ikan, air, garam, atau saus tomat sederhana umumnya masuk kategori grup 3 yaitu processed food. Jadi bukan ultra-processed food.
“Maka dari itu jangan lihat kalengnya, Bu. Tapi lihat daftar bahannya.”
Kalimat itu langsung nonjok di kepala Ibun sampe refleks manggut manggut.
Terus ibun penasaran lagi.
"Tapi bagus mana dibandingin suplemen?"
Beliau langsung ambil HP ngajak ngitung. Nah loh… Ibun langsung pusing kalau udah urusan hitung-hitungan. 😂
“Coba kita hitung nilai gizinya, bu. Contoh satu kaleng sarden ukuran sekitar 155 gram, misal, rata-rata mengandung sekitar 20 gram protein dan sekitar 2 gram omega-3. Harganya kurang lebih Rp 9.000."
Lalu beliau membandingkan dengan suplemen omega-3. Satu botol isi 90 kapsul harganya sekitar Rp 350.000 sampai Rp 450.000. Total kandungan omega-3 sekitar 27 gram.
Beliau serius menghitung.
“Kalau dihitung per gram omega-3, sarden jauh lebih terjangkau. Belum lagi Ibu juga dapat protein dan zat gizi lain.”
Ibun bengong. Iya juga ya?
Masih gak puas, ibun kepo tapi asbun, “Kalau gitu, mending makan sarden tiap hari aja dong, pak?”
Beliau langsung menggeleng mantap, “Bukan begitu, bu. Tetap makan ikan yang bervariasi. Sarden itu salah satu pilihan yang bagus, terutama kalau ingin memenuhi kebutuhan protein dan omega-3 dengan biaya yang lebih terjangkau dan praktis.”
Jawaban itu menurut Ibun lebih masuk akal.
-----
Sampai rumah, Ibun buru-buru ambil sarden dari isian parcel lebaran kemaren yang belum diolah. Ibun balik kemasannya dan baca komposisinya.
Isinya cuma ikan, air, garam, dan saus tomat. Lha ini... bener berarti isinya sesimpel ini.
Haduh! Selama ini Ibun lebih sering percaya stigma daripada baca label makanan.
Sekarang kebiasaan Ibun berubah. Bukan cuma buat sarden. Setiap beli makanan, selalu lihat daftar bahan dan kandungan gizinya dulu.
Karena ternyata…
Tidak semua makanan kaleng itu buruk.
Yang paling penting adalah memahami prosesnya, membaca komposisinya, dan memilih berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.
Aish! Makin berasa pinter ih!
-----
Oya, Tetangga Ibun juga bilang, kalau milih sarden sebaiknya lihat kandungan natriumnya.
Semakin rendah natriumnya (asal rasa dan kualitas tetap baik), umumnya lebih baik buat yang sedang menjaga asupan garam.
Selain itu lihat juga persentase kandungan ikannya. Semakin tinggi kandungan ikan, biasanya semakin banyak juga protein dan omega-3 yang didapat.
Terus ga setiap orang butuh dan cocok sama sarden ya. Kalo ada kondisi medis tertentu tetap harus konsultasi ke Dokter...
Ibun pilih produk ini karena rendah natrium tapi proteinnya padet banyak👇
- Kandungan sarden : 64.5 %
- Kandungan natrium : 190 mg / 100 gr (Low to Moderate)
Bisa cek disini kalo penasaran
Buat yang jaga asupan garam bisa ini:
https://s.shopee.co.id/5VTYPuQRfM
Kalo yang garam normal dan mode hemat yang ini:
https://s.shopee.co.id/1gGpj6neh4
Kalo kamu gimana? Doyan sarden atau baru tau juga kayak ibun? Yuk diskusi...
0 Komentar